Rantaunews.com, SOLO – Pura Mangkunegaran menampilkan Tari Golek Montro dan Bedhaya Soerya Soemirat di Pendapa Ageng Mangkunegaran, Solo, dalam resepsi pernikahan Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan Kanjeng Pangeran Haryo Fransiskus Xaverius Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas, Jumat (6/11/2026).
Kedua tarian tersebut menjadi bagian dari rangkaian resepsi yang dihadiri tamu undangan dalam perayaan Dhaup Ageng Mangkunegaran. Tari Golek Montro merupakan salah satu tari klasik khas Mangkunegaran yang diciptakan pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara VII (1916-1944).
Tarian ini menggambarkan gadis-gadis keraton yang beranjak dewasa dan sedang berhias diri untuk menyambut kedatangan tamu agung. Gerakannya didominasi gerakan lembut dan gemulai yang mencerminkan keanggunan penari perempuan Jawa.
Selain memiliki nilai estetika, Golek Montro juga berfungsi sebagai tari penyambutan tamu dan lazim ditampilkan pada awal acara. Tarian ini diiringi Gending Montro dan Ladrang Asmaradana. Golek Montro telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Surat Keputusan Nomor 372/M/2021.
Resepsi tersebut merupakan salah satu rangkaian acara Dhaup Ageng pernikahan kakak pemimpin Praja Mangkunegaran, K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, yakni Gusti Sura dengan Kanjeng Dimas.
Sebelum resepsi, kedua mempelai menjalani tradisi Panggih atau pertemuan resmi setelah pemberkatan pernikahan. Prosesi tersebut berlangsung pada pukul 18.00 WIB di Pendapa Ageng dan Dalem Ageng Pura Mangkunegaran dengan ageman dodot.
Prosesi Panggih terdiri atas beberapa tahapan. Rangkaian diawali dengan tebusan atau Pisang Sanggan, yakni upacara yang didahului masuknya persembahan berupa pisang sanggan.
Kemudian, Balangan Gantal, yakni kedua pengantin saling melempar gantal atau gulungan daun sirih yang diikat. Prosesi ini melambangkan pertemuan dan keterikatan kedua pengantin sekaligus menjadi simbol awal memasuki kehidupan bersama.
Selanjutnya, Ngunjuk Degan, yaitu prosesi ketika kedua mempelai bergantian meminum air kelapa. Berikutnya, Bobot Timbang, yakni ketika orang tua memangku kedua pengantin sebagai simbol bahwa keduanya memiliki kedudukan dan kasih sayang yang sama. Prosesi ini menggambarkan penerimaan orang tua terhadap pasangan sebagai satu kesatuan keluarga.
Tahapan berikutnya adalah Kacar Kucur. Dalam prosesi ini, pengantin pria menuangkan atau menyerahkan simbol berupa beras, biji-bijian, dan uang kepada pengantin perempuan. Prosesi tersebut melambangkan tanggung jawab pengantin pria dalam memberikan nafkah, sementara pengantin perempuan menerima dan mengelola pemberian tersebut untuk kehidupan rumah tangga.
Ada pula Dhahar Klimah, yakni prosesi ketika kedua pengantin menyantap makanan bersama. Prosesi ini menjadi simbol bahwa keduanya akan berbagi kehidupan, rezeki, serta menjalani suka dan duka sebagai pasangan.
Berikutnya, Nyoloki, yakni prosesi ketika pasangan pengantin berada di krobongan Dalem Ageng dalam keadaan gelap. Setelah itu, para nini membawa lampu minyak untuk menerangi pengantin.
Rangkaian dilanjutkan dengan Pahargyan atau Resepsi I yang dihadiri tamu VVIP dan keluarga. Pada kesempatan tersebut, kedua pengantin berganti busana Sikepan Alit Mandhasari.

Leave a Reply