Rantaunews.com, MADIUN — Puluhan siswa dan guru di SDN 2 Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, mengalami keracunan makanan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (9/9/2026). Terkait dugaan keracunan ini, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan KB Kota Madiun mengambil sampel makanan dari menu MBG dan akan mengirimkannya ke laboratorium di Surabaya.
Katimja Surveilans Immunisasi dan Penyakit Menular di Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan KB Kota Madiun, Tri Wahyuning Novitasari, mengatakan hingga saat ini terdata ada 30 siswa dan guru yang mengalami keracunan. Mereka merasakan pusing dan mual.
“Kami tadi dapat info ada dugaan keracunan makanan di SDN 2 Kanigoro. Untuk para siswa dan guru yang terdampak sudah kami tangani. Ada yang dilayani di Puskesmas Sukosari, dan ada juga beberapa yang kami rujuk untuk mendapatkan penanganan di RSUD Kota Madiiun,” kata dia, Rabu.
Meski demikian, dia belum bisa memastikan apakah keracunan berasal dari menu MBG atau ada penyebab lainnya. Untuk itu, kata dia, pihaknya menunggu hasil laboratorium.
“Kami masih menunggu karena untuk sampel makanan ini masih harus kami kirim ke laboratorium yang ada di Surabaya,” ucap Vita.
Gejala dari pasien sendiri memang gejala khas keracunan yaitu pusing, mual dan muntah, bahkan ada seorang guru yang sampai tidak sadarkan diri.
“Ada satu orang tadi sempat ada yang pingsan,” ungkap Vita.
Beberapa di antaranya bahkan telah diperbolehkan pulang dan dijemput oleh orang tua masing-masing.
“Sudah beberapa kami perbolehkan pulang. Memang kondisinya kalau yang sudah baik-baik saja, tadi sudah beberapa juga dijemput oleh orang tua,” tuturnya.
Perbedaan lokasi penanganan medis, kata Vita, disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Korban dengan gejala yang masih dapat ditangani di tingkat fasilitas kesehatan pertama dirawat di Puskesmas Sukosari.
Sementara pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk pemberian infus, dirujuk ke RSUD Kota Madiun.
“Yang bisa ditangani di Puskesmas, ini yang kami tangani di Puskesmas. Kemudian yang memang perlu untuk dirawat, diinfus sementara, ini memang kami rujuk ke Sogaten,” terangnya.
Vita menyebut kondisi pasien yang dirujuk ke RSUD relatif lebih berat dibandingkan korban yang mendapatkan penanganan di Puskesmas. Namun, ia menegaskan langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan sesuai kondisi kesehatannya.
“Intinya adalah para korban harus ditangani terlebih dahulu,” katanya.
Hingga kini, Dinkes Kota Madiun masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut.
Vita meminta agar penyebab kejadian tidak disimpulkan terlebih dahulu sebelum hasil pemeriksaan terhadap sampel makanan keluar.

Leave a Reply