Rantaunews.com, CILACAP – Pertamina melalui Kilang Unit IV Cilacap menjajaki pemanfaatan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) hasil program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk diolah menjadi bahan bakar pesawat udara ramah lingkungan atau sustainable aviation fuel (SAF).
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan minyak jelantah tersebut nantinya dikumpulkan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan KDMP.
“UCO (used cooking oil/minyak jelantah) nanti dikumpulkan dari SPPG, KDMP,” kata Hermawan di sela temu media nasional Pertamina Media Xpose di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, pemanfaatan minyak jelantah dari SPPG dan KDMP akan dilakukan melalui skema antarbisnis atau business to business (B2B) untuk memenuhi stok UCO yang selanjutnya diproses menjadi bahan bakar avtur ramah lingkungan.
Selain dari program MBG dan koperasi desa, minyak jelantah juga dikumpulkan dari hotel, restoran, kafe, serta pemasok lain, di antaranya Gabungan Pengusaha/Pelaku Usaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi).
Dalam paparannya, Hermawan menyebut Gapulimgi memiliki potensi besar dalam pemenuhan UCO, dengan perkiraan pasokan mencapai 240.000 hingga 300.000 ton per tahun.
Tak hanya melalui skema B2B, Pertamina juga menggunakan skema langsung menyasar konsumen atau business to consumer (B2C) dengan mengumpulkan minyak jelantah yang dipasok dari rumah tangga, masyarakat, maupun komunitas.
Adapun harga pembelian UCO melalui skema B2C mencapai Rp6.000 per liter. Sementara itu, harga melalui skema B2B diperkirakan lebih tinggi.
Produksi perdana SAF di Indonesia dilakukan pada Juli-Agustus 2025 setelah sebelumnya dilakukan serangkaian uji coba penerbangan komersial pada September 2023 menggunakan armada Garuda Indonesia Boeing 737-800.
Uji coba tersebut dilakukan dengan mencampurkan 2,4% minyak inti sawit yang telah melalui proses pemurnian, pemutihan, dan penghilangan bau atau refined, bleached, and deodorized kernel oil (RBDPKO).
Pertamina menargetkan kandungan SAF dapat ditingkatkan hingga mencapai 3%.
SAF tersebut juga telah meraih sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) dan digunakan oleh sejumlah maskapai dalam negeri, yakni Garuda Indonesia dan Pelita Air.
Selain itu, SAF juga digunakan oleh sejumlah maskapai asing untuk memenuhi kebutuhan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, dan Bandara Ngurah Rai, Bali.

Leave a Reply