UMKM Boyolali Kian Tercekik, Ditekan Harga Plastik dan Tapioka yang Makin Naik

UMKM Boyolali Kian Tercekik, Ditekan Harga Plastik dan Tapioka yang Makin Naik
Pedagang cilok dan es teh jumbo, Ahmad Fauzi Ramadhan, berjualan di lapaknya beberapa waktu lalu. (Daerah/Ni’matul Faizah)

Rantaunews.com, BOYOLALI — Pelaku usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM di Boyolali kian tercekik di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia. Berbagai harga bahan jualan mereka mulai dari plastik hingga tepung tapioka mengalami kenaikan. 

Mereka harus memutar otak seperti mengecilkan ukuran barang dagangan, memperkecil keuntungan, hingga terpaksa menaikkan harga. Salah satu pedagang cilok di Desa Pelem, Kecamatan Simo, Ahmad Fauzi Ramadhan, mengatakan harga tepung tapioka yang dipakai untuk membuat cilok naik drastis.

“Kenaikannya malah melebihi harga Pertamax yang naik Rp4.000, tapioka ini naik Rp5.000. Sebulan lalu harga tepung tapioka itu Rp9.000 per kilogram menjadi Rp14.000 per kilogram. Ini sudah bukan naik harga, tapi sudah ganti harga,” kata dia kepada Espos, Rabu (17/6/2026).

Rama mengatakan tepung tapioka sekitar Mei lalu Rp9.000 per kilogram. Kemudian, dua pekan lalu naik menjadi Rp12.000 per kilogram dan kemarin ia membeli tapioka di harga Rp14.000 per kilogram.

Kenaikan harga tapioka yang drastis membuatnya harus memilih antara menaikkan harga cilok atau memperkecil ukuran ciloknya. Pada akhirnya, ia mengambil pilihan untuk memperkecil ukuran cilok dan mempertahankan harga. Pria 23 tahun tersebut takut ketika nanti pelanggannya lari ketika harga dinaikkan.

“Dulu saya bisa memberikan cilok gratis setiap sepekan sekali seperti beli Rp10.000 dapat tiga porsi yang biasanya dua, sekarang misal memberikan seperti itu ya rugi,” kata pria yang akrab disapa Rama tersebut.

Rama pun mencoba mencari tahu apa penyebab tepung tapioka naik. Ia mendapati informasi di Internet bahwa kenaikan harga tapioka karena mayoritas bahan impor dan terpengaruh akan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar.

Ia mengatakan saat kenaikan awal tepung tapioka, ia masih bisa menjual cilok dengan ukuran tetap dan tidak menaikkan harga dengan cara memperkecil keuntungan. Namun, lama kelamaan kenaikan drastis tak bisa membuatnya menahan kerugian jika terus dilanjutkan.

Berharap Intervensi Pemerintah

“Tepung tapioka yang saya beli itu kualitas terbaik untuk membeli cilok, aci, atau cimol. Pedagang sempat menawarkan tapioka kualitas kurang dari yang saya punya di harga Rp12.000/kilogram, tapi kualitas rasa produk saya nanti akan berkurang,” kata dia.

Sebelum kenaikan tepung tapioka, Rama mengatakan UMKM kuliner terdampak kenaikan harga plastik, sayur mayur, tahu putih, hingga tahu cokelat. Ia selain berjualan cilok juga berjualan es teh jumbo, sehingga Rama harus membeli cup plastik.

Ia mengingat sebelum Idulfitri, harga cup plastik teh jumbo 22 oz sekitar Rp13.000 isi 50 pcs. Saat ini, harga cup sama seharga Rp21.000 per 50 pcs. Es teh jumbo yang awalnya Rp3.000 per cup menjadi Rp4.000 per cup. Selain itu, biasanya cilok selalu diberikan wadah cup kecil, setelah kenaikan harga, ia akan bertanya pembeli memilih diwadahi plastik atau cup kecil.

Untuk tahu, dulu ia bisa mendapatkan 10 tahu dengan Rp5.000, sekarang Rp5.000 mendapatkan delapan tahu. “Keadaan ini benar-benar mencekik pedagang UMKM terutama kuliner ya karena kenaikan harga bahan pokok kami naik drastis mulai dari tapioka hingga plastik,” kata dia.

Ia berharap pemerintah bisa mengintervensi kenaikan tinggi tersebut sehingga bisa kembali ke harga semula. Sementara itu, pedagang bakso bakar di Ngemplak, Luqman, mengatakan kenaikan tapioka hingga plastik juga mencekiknya.

Tak hanya itu, ada kenaikan harga seperti cabai, bawang, minyak, hingga gula. “Akhirnya saya menaikkan harga dari Rp1.000 menjadi Rp2.000, ukurannya lebih besar. Modalnya juga lebih besar sekarang,” kata dia.

Terpisah, penjual cilok lain di Kecamatan Boyolali, Wahyu, mengeluhkan kenaikan tapioka hingga plastik. “Akhirnya ukurannya saya perkecil ukuran ciloknya. Naiknya yang drastis ini sudah sebulan ini,” kata dia.

Leave a Reply