Rupiah Melemah Tak Jamin Turis Asing Jor-joran Belanja saat Liburan di Semarang

Rupiah Melemah Tak Jamin Turis Asing Jor-joran Belanja saat Liburan di Semarang
ESPOS.ID - Dua orang wisatawan mancanegara sedang menjelajah kawasan Kota Lama Semarang, Jumat (5/7/2024) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Rantaunews.com, SEMARANG — Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level Rp18.031 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) ternyata tidak serta-merta membuat wisatawan mancanegara lebih royal membelanjakan uangnya saat berlibur di Kota Semarang.

Fakta itu diungkapkan salah seorang pemandu wisata private tour di Kota Semarang, Ariawan. Ia menilai wisatawan mancanegara tetap perhitungan dalam mengeluarkan uang belanja, meski pelemahan rupiah memberikan keuntungan lebih dari sisi nilai tukar dan meningkatkan daya beli mereka di Indonesia.

“Hampir setiap bulan ada turis asing yang datang ke Kota Semarang. Kalau tidak salah tahun ini ada sekitar 24 kapal pesiar yang dijadwalkan berlabuh di Semarang. Belum lagi wisatawan yang datang sendiri atau bersama rombongan,” ucap Ariawan saat dihubungi Espos, Kamis (4/6/2026).

Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang angka turis asing yang berlibur ke ibu kota Jawa Tengah (Jateng) tersebut per Januari-Mei 2026 mencapai 15.914 orang.

Meski rupiah terus melemah, Ariawan mengaku belum merasakan dampak signifikan terhadap jumlah wisatawan asing yang datang ke Kota Semarang. Menurutnya, kunjungan wisatawan mancanegara masih relatif normal. 

Setiap bulan, ia rata-rata menerima permintaan dua hingga tiga paket private tour dari biro perjalanan dengan jumlah peserta maksimal 10 orang dalam setiap rombongan.

“Kalau melihat kondisi rupiah sekarang, turis asing yang ke Semarang masih biasa saja. Belum ada dampak yang membuat orang Eropa berbondong-bondong datang ke sini. Mereka juga tetap perhitungan ketika mengeluarkan uang, enggak jor-joran,” papar Ariawan. 

Ariawan mencontohkan saat hendak membeli suvenir seperti wayang, turis asing biasanya akan mempertimbangkan aspek praktis, mulai dari kemudahan membawa barang tersebut hingga ruang penyimpanan saat perjalanan pulang.

Oleh karenanya, anggapan bahwa turis asing yang datang dan gemar berbelanja saat berlibur di Indonesia tidak sepenuhnya tepat. Banyak turis mancanegara, terutama dari Eropa, lebih memilih menikmati pengalaman dan destinasi wisata ketimbang menghabiskan uang untuk membeli oleh-oleh.

“Turis asing itu tidak selalu belanja. Bahkan banyak yang tidak membeli oleh-oleh karena dianggap merepotkan pas pulang di dalam pesawatnya. Berbeda dengan wisatawan Indonesia ketika sedang berada di luar negeri suka belanja atau jor-joran saat dolar sedang turun,” imbuhnya. 

Pernyataan serupa juga disampaikan pemandu wisata lainnya, Yogi Fajri, yang mengatakan pelemahan rupiah belum memberikan dampak signifikan terhadap pola pengeluaran wisatawan asing saat berlibur di Kota Semarang. 

Menurut Yogi, karakter wisatawan juga berbeda-beda berdasarkan asal negaranya. Wisatawan yang berasal dari negara-negara Eropa umumnya perhitungan tidak mudah menghamburkan uang selama liburan. 

“Kebanyakan wisatawan dari Eropa tidak jor-joran saat berlibur. Kalau wisatawan dari Asia baru suka jor-joran [pengeluaran],” tandasnya. 

Leave a Reply