Gubernur Luthfi Respons Aksi Tanam Pisang di Jalan Rusak Blora: Sudah Enggak Ada

Gubernur Luthfi Respons Aksi Tanam Pisang di Jalan Rusak Blora: Sudah Enggak Ada
Warga menanam pohon dan menimbun lubang jalan dengan tanah grosok di ruas jalan provinsi Randublatung–Cepu, Kabupaten Blora, Minggu (31/5/2026), sebagai bentuk protes terhadap kondisi jalan yang rusak. ANTARA/Gunawan.

Rantaunews.com, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Luthfi, merespons soal aksi protes jalan rusak warga Kabupaten Blora dengan menanam pohon pisang dan pepaya di ruas jalan provinsi Randublatung–Cepu. Aksi yang dilakukan pada Minggu (31/5/2026) itu, sebagai bentuk kekecewaan terhadap lambannya penanganan jalan rusak yang dinilai membahayakan pengguna jalan.

“Enggak ada [pohon pisang dan pohon pepaya]. Pohon pisangnya juga sudah enggak ada,” kata Luthfi seusai Rapat Koordinasi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah di Hotel Gumaya Semarang, Kamis (4/6/2026).

Luthfi menegaskan, jika perbaikan Jalan Raya Randublatung-Cepu di Kabupaten Blora mulai berjalan. Pihaknya juga akan segera melakukan perubahan usulan program atau Pokir (pokok pikiran) untuk mengatasi kerusakan jalan di daerah-daerah lainnya.

“Progres Blora sudah, sudah dijalankan. Bahkan September nanti, kita ubah terkait dengan anggaran perubahan, jalan-jalan yang belum maksimal, kita maksimalkan,” sambungnya.

Luthfi juga menambahkan jika pada tahun 2025, Blora mendapat alokasi anggaran sekitar Rp75 miliar. Rinciannya, Rp45 miliar untuk penanganan jalan provinsi dan Rp30 miliar untuk ruas kabupaten.

“Kalau masih ada lubang-lubang, harus kita rekonstruksi kembali [di tahun 2026]. Jadi mana yang bolong, karena apa, kami harus cek lagi jalan yang belum mantap atau jalan yang rusaknya berat, harus kita selesaikan,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, selain menanam pohon, warga juga menimbun lubang dengan tanah grosok. Mereka juga membentangkan simbol kartu kuning sebagai peringatan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng).

Kartu kuning menjadi simbol kritik dan peringatan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata memperbaiki jalan yang selama bertahun-tahun dikeluhkan masyarakat. Sebab, aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan warga karena kerusakan jalan dinilai semakin membahayakan pengguna jalan namun belum mendapat penanganan memadai.

Selain menimbun lubang secara swadaya, warga juga memasang pohon pisang sebagai penanda titik-titik jalan yang rusak guna mengurangi risiko kecelakaan. Dalam aksi tersebut, warga juga menyinggung respons Gubernur Jawa Tengah terhadap keluhan jalan rusak yang sebelumnya disampaikan Wakil Bupati Blora Sri Setyorini.

Leave a Reply