Kisah Petani Punk di Gunungkidul, Kini Jadi Pemasok Bahan Pangan Dapur MBG

Kisah Petani Punk di Gunungkidul, Kini Jadi Pemasok Bahan Pangan Dapur MBG
Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Petani Punk di Kabupaten Gunungkidul kini menjadi salah satu pemasok bahan pangan di dapur MBG. (Istimewa)

Rantaunews.com, JAKARTA – Di balik stereotip tentang kehidupan jalanan yang liar dan tanpa tujuan, sekelompok anak pubk di Kabupaten Gunungkidul justru menemukan arah baru, kembali ke tanah, ke sawah, dan ke masa depan.

Komunitas itu bernama Petani Punk, suatu gerakan yang didirikan oleh Pratisna Sibag pada 2018. Ia berangkat dari kegelisahan sederhana namun mendalam, yakni kian sedikit anak muda yang mau turun ke sawah. Bagi Sibag, pemandangan itu bukan sekadar kenyataan, melainkan peringatan keras.

“Waktu itu kita seperti setengah teler,” kenang Sibag, dikutip dari akun mereka @petanipunk_gk, Jumat (17/4/2026). “Kita mentertawakan petani-petani tua di lahan. Tapi pas pulang, kita sadar, 10 sampai 20 tahun lagi, mungkin sudah tidak ada petani,” ceritanya.

Kesadaran itulah yang mengubah arah hidup mereka. Dari dunia jalanan yang penuh kebisingan dan debu knalpot, puluhan anak punk mulai belajar menanam, dari mencangkul, menyemprot, hingga memupuk tanaman.

Gerakan ini bermula dari sekitar 40 anak jalanan yang ikut bergabung. Kini, Petani Punk berkembang pesat, mendampingi lebih dari 120 pemuda di Padukuhan Kalangan. Misi mereka sederhana namun tegas, membuktikan bahwa hidup layak bisa dibangun dari tanah sendiri, tanpa harus meninggalkan kampung untuk menjadi buruh di kota besar.

Namun jalan mereka tidak selalu mulus. Demi belajar bertani, Sibag bahkan pernah mengambil risiko besar.

“Kami sampai menggadaikan sertifikat tanah orang tua saya, yang di atasnya ada rumah,” ujarnya.

“Jujur, kami takut. Kalau gagal, orang tua kami bisa kehilangan tempat tinggal. Tapi saat itu kami nekat,” lanjutnya.

Kerja keras itu terbayar. Mereka berhasil panen, melunasi tanggungan, dan yang paling penting membuktikan bahwa mereka mampu bertani.

Seiring waktu, kepercayaan warga pun tumbuh. Lahan-lahan tidur seluas 800 hingga 1.500 meter persegi mulai dihibahkan untuk mereka kelola.

Hasil panen tak hanya menghidupi anggota komunitas, tapi juga menjadi sumber dana kegiatan pemuda setempat, dari perayaan 17 Agustus hingga tahun baru.

Jadi Pemasok Dapur MBG dan Kontrol Sosial

Kini, Petani Punk memasuki babak baru. Mereka terlibat dalam program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pemasok bahan pangan.

Bagi Sibag dan kawan-kawan, keputusan ini bukan semata soal peluang ekonomi. Ada misi lain yang mereka bawa, yaitu menjadi bagian dari kontrol sosial program tersebut.

“Kami ini kalau salah ya bilang salah, kalau benar ya jalan terus,” tegas Sibag.

“Kalau besok di dapur MBG ada yang tidak beres, suara kami akan lebih kencang dari siapa pun. Karena kami ada di dalamnya,” ucapnya.

Peran ganda ini membuat komunitas Petani Punk tak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan lokal, tapi juga ikut menjaga transparansi dan kualitas program publik.

Dari anak-anak yang dulu dipandang sebelah mata, mereka kini berdiri sebagai petani, penggerak komunitas, sekaligus penjaga integritas.

Leave a Reply