Banjir Terjang Solo dan Bandung, BNPB: Dampak Siklon 92S Masih Terasa

Banjir Terjang Solo dan Bandung, BNPB: Dampak Siklon 92S Masih Terasa
Warga membersihkan rumahnya yang tergenang air saat banjir di Kelurahan Tipes, Serengan, Solo, Rabu (15/4/2026). Banjir yang menggenangi sejumlah rumah warga di kelurahan tersebut sejak 14 April 2026 malam itu diakibatkan oleh hujan deras serta meluapnya Sungai Jenes. Menurut warga setempat ketinggian air mencapai sekitar 80 cm hingga kini mulai menyusut dengan ketinggian kurang lebih 30cm.(Daerah/J Howi Widodo).

Rantaunews.com, JAKARTA — Banjir melanda Kota Solo, Jawa Tengah, dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dalam periode yang sama. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut kejadian tersebut dipengaruhi dampak bibit siklon tropis 92S yang masih terasa.

Di Kota Solo, hujan deras berdurasi panjang yang mengguyur wilayah Soloraya sejak Selasa (14/4/2026) pukul 21.42 WIB menyebabkan banjir di sejumlah wilayah.

Berdasarkan data per Rabu (15/4/2027) pukul 17.40 WIB, sebanyak 1.083 kepala keluarga (KK) terdampak yang tersebar di sejumlah kelurahan, antara lain Pajang 130 KK, Joyosuran 117 KK, Tipes 211 KK, Bumi 85 KK, Joyontakan 15 KK, Panularan 187 KK, Sondakan 27 KK, Laweyan 9 KK, Sangkrah 47 KK, Kedung Lumbu 230 KK, Jebres 23 KK, serta Mojosongo 2 KK. Sebagian besar wilayah terdampak dilaporkan mulai surut, meskipun pendataan masih berlangsung di beberapa titik.

Selain genangan, kejadian ini juga mengakibatkan talud longsor di RW 014 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan. Sejumlah warga sempat mengungsi di masjid, balai warga, sekolah, hingga rumah warga, dengan puluhan jiwa masih membutuhkan dukungan logistik dan layanan dasar.

BPBD Kota Solo bersama unsur terkait telah melakukan penanganan darurat berupa asesmen, evakuasi warga, serta koordinasi lintas sektor. Bantuan logistik yang disalurkan meliputi matras, selimut, paket sembako, makanan siap saji, hingga pendirian dapur umum.

Bandung Terdampak, TMA Capai 150 Cm

Pada periode yang sama, banjir juga terjadi di Kabupaten Bandung akibat hujan berintensitas tinggi dan meningkatnya debit Sungai Cisunggalah hingga menyebabkan tanggul jebol pada Selasa.

Banjir berdampak pada dua kecamatan, yakni Majalaya dan Bojongsoang, yang mencakup empat desa: Bojong, Bojongsoang, Bojongsari, dan Tegalluar.

Data sementara mencatat sekitar 95 KK atau 250 jiwa terdampak serta 95 unit rumah terdampak. Hingga Rabu, kondisi di Kecamatan Majalaya dilaporkan telah surut total, sementara di Kecamatan Bojongsoang tinggi muka air (TMA) masih berkisar antara 10 hingga 150 cm.

BPBD Kabupaten Bandung bersama unsur terkait terus melakukan asesmen, pendataan, serta mengimbau warga untuk mengungsi ke tempat aman saat hujan deras. Pembersihan material lumpur juga dilakukan secara gotong royong oleh petugas dan masyarakat.

Saat ini, wilayah Kabupaten Bandung masih berstatus siaga darurat bencana hidrometeorologi sesuai keputusan pemerintah daerah.

BNPB Imbau Waspada Cuaca Ekstrem

Sementara itu, melalui program Teropong Bencana BNPB yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB_Indonesia pada Rabu pukul 15.30 WIB, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin, menyampaikan bahwa curah hujan tinggi di wilayah barat Sumatra hingga Jawa masih dipengaruhi dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis 92S di barat daya Sumatra yang masih eksis.

Meskipun bibit siklon tersebut diprediksi semakin menjauhi wilayah Indonesia, masyarakat diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Adapun wilayah yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan antara lain Sumatra bagian tengah dan selatan hingga Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, serta Jawa bagian tengah dan selatan.

“Meski semakin menjauh, tapi yang harus dipahami bahwa dampak fenomena ini dapat mempengaruhi kondisi cuaca ekstrem secara lokal,” jelas Miming dalam keterangan tertulis yang diterima Espos melalui grup Whatsapp, Rabu malam.

“Sumatra bagian tengah, selatan hingga Lampung, kemudian Jawa bagian barat dan tengah hingga DKI Jakarta ini curah hujan tinggi di sore hari sangat berpotensi terjadi,” imbuhnya.

Menyikapi kondisi tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah.

Warga di wilayah rawan banjir diminta rutin memantau tinggi muka air, membersihkan saluran drainase, serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi peningkatan debit air secara signifikan. Selain itu, masyarakat di sekitar lereng atau bantaran sungai juga diminta mewaspadai potensi longsor susulan.

Pemerintah daerah didorong memastikan kesiapan logistik, jalur evakuasi, serta sistem peringatan dini agar risiko bencana dapat diminimalkan. BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk memantau perkembangan situasi dan memastikan penanganan darurat berjalan optimal.

Leave a Reply