Banjir Solo Bukan Kejutan, Dokter Anak Soroti Pentingnya Mitigasi Iklim

Banjir Solo Bukan Kejutan, Dokter Anak Soroti Pentingnya Mitigasi Iklim
Pengendara menerobos genangan banjir saat melintas di Jalan Ir Soekarno, Kwarasan, Grogol, Sukoharjo, Rabu (15/4/2026). Genangan air setinggi kurang lebih 50cm menggenangi jalan perbatasan Kota Solo dan Sukoharjo tersebut diakibatkan oleh hujan deras serta meluapnya anak sungai Bengawan Solo. Sejumlah jalan untuk sementara waktu ditutup oleh Dinas Perhubungan serta masayarakat dihimbau untuk tidak melewati kawasan tersebut. (Daerah/J Howi Widodo).

Rantaunews.com, SOLO — Fenomena banjir yang kerap melanda Kota Solo dinilai bukan lagi kejadian tak terduga, melainkan konsekuensi dari perubahan iklim yang telah lama diprediksi. Hal ini disampaikan dokter anak sekaligus Pediatric Health Educator, dr. MN Ardi Santoso, yang menekankan pentingnya mitigasi perubahan iklim sebagai bagian dari strategi kesehatan publik.  

“Banjir di Solo bukan kejutan. Ini adalah konsekuensi yang sudah lama kita tahu, tetapi belum cukup kita siapkan,” ujar Ardi kepada espos, Rabu (15/3/2026).  

Menurut dia, perubahan iklim saat ini tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat yang nyata. Dampaknya pun sudah dirasakan langsung, terutama oleh kelompok rentan seperti anak-anak.  

Ia mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memperkirakan akan ada tambahan 250.000 kematian per tahun pada periode 2030–2050 akibat penyakit seperti diare, malnutrisi, malaria, dan stres panas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim meningkatkan beban penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.  

Selain itu, laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan intensitas hujan ekstrem terus meningkat, sehingga kejadian banjir dan bencana hidrometeorologi menjadi semakin sering dan sulit diprediksi. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat lebih dari 90 persen bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor.  

“Artinya jelas, banjir seperti di Solo bukan anomali, tetapi pola baru yang akan semakin sering terjadi,” tegasnya.  

Ardi menjelaskan, dampak perubahan iklim terhadap anak tidak hanya terjadi saat bencana, tetapi juga berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Setelah banjir, misalnya, kasus diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, hingga penyakit berbasis vektor seperti demam berdarah cenderung meningkat.  

Tak hanya berdampak pada kesehatan, banjir juga mengganggu proses pendidikan. Sekolah kerap diliburkan, lingkungan belajar menjadi tidak aman, serta kualitas pembelajaran dan konsentrasi siswa menurun. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu gangguan tumbuh kembang, stres, hingga penurunan kualitas kesehatan generasi mendatang.  

Ia menilai, persoalan utama saat ini adalah pendekatan yang masih bersifat reaktif, yakni baru bergerak setelah bencana terjadi. Padahal, dalam menghadapi krisis iklim, mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama.

“Sudah saatnya kita berpindah dari menangani bencana menjadi mencegah dampaknya sejak awal,” ujarnya.  

Untuk itu, Ardi mendorong sejumlah langkah strategis, di antaranya penataan ulang daerah resapan air, perbaikan sistem drainase, serta pengendalian alih fungsi lahan di perkotaan. Selain itu, diperlukan penguatan sistem peringatan dini, simulasi bencana rutin, serta edukasi masyarakat berbasis risiko.  

Ia juga menekankan pentingnya peran sekolah dalam mitigasi perubahan iklim, seperti memasukkan materi perubahan iklim dan kesehatan dalam kurikulum, serta program kesiapsiagaan bencana bagi siswa. Di sisi lain, sistem kesehatan perlu dibuat lebih adaptif terhadap perubahan iklim melalui penguatan layanan primer dan pemantauan penyakit berbasis iklim.  

“Perubahan iklim itu nyata. Banjir di Solo adalah bukti, bukan sekadar peringatan. Jika kita terus reaktif, kita akan terus menjadi korban,” katanya.  

Ia menegaskan, upaya mitigasi tidak hanya bertujuan melindungi lingkungan, tetapi juga menjaga masa depan generasi mendatang.

Leave a Reply